loading...
Home » » Sabdo Palon Nagih Janji

Sabdo Palon Nagih Janji

Sebuah Ilustrasi
Literasi Utama
Jakarta (PerpustakaanTanahImpian) -  Apakah sudah saatnya Sabdo Palon Menagih Janji?

Sabdo Palon yang dikenal sebagai penasihat spiritual di Tanah Jawa, dan juga sebagai pembimbing Jawa sejati, dijelmakan dalam banyak wadag atau raga yang berbeda di setiap generasi. 

Sementara tokoh lain yang sering dikaitkan dengan Sabdo Palon adalah Naya Genggong, yang berduet menjadi penuntun gaib yang mawujud. Sehingga tidak mengherankan jika mereka berdua sering hadir mengiringi Raja-Raja Jawa di masa lalu.

Kiranya kita sepakat bahwa Sabdo Palon dan Naya Genggong bukanlah sekedar sosok, namun merupakan gelar, olehkarenanya kami mengilustrasikan dari prilaku pewayangan.

Sebelum membaca "Sabdo Palon Nagih Janji", kiranya perlu Anda mencamkan, mengapa Tim Tanah Impian sangat memperhatikan perlunya kemurnian Sejarah Nusantara

Beginilah caranya mereka menghancurkan bangsa kita :
  • Pertama, mereka mengaburkan, menyesesatkan, dan mengacaukan Sejarah Nusantara
  • Kedua, mereka memutuskan pengetahuan mengenai Leluhur Kita
  • Ketiga, mereka mengarang  Sejarah Baru
Baca juga : Hoax : Brawijaya V Masuk Islam

Sabdo Palon dan Naya Genggong merupakan gelar yang diberikan sesuai dengan karakter tugas yang diemban masing-masing, yakni :
  • Sabdo Palon, "sabdo" artinya seseorang yang memberikan masukan / ajaran, dan "palon" artinya kebenaran yang bergema di Alam Semesta. Jadi "Sabdo Palon" bermakna sebagai seorang abdi yang berani menyuarakan kebenaran kepada Raja, serta berani menanggung akibatnya. 
  • Naya Genggong, "naya" artinya nayaka / abdi raja, dan "genggong" artinya mengulang-ulang suara. Jadi "Naya Genggong" bermakna sebagai seorang abdi yang berani mengingatkan Raja secara berulang-ulang mengenai kebenaran, dan berani menanggung akibatnya.
Ada yang menyebutkan, Sabdo Palon dan Naya Genggong mulai dikenal pada masa kepemimpinan Ratu Tribhuwana Tunggadewi (Ibu dari Hayam Wuruk), dan tetap setia sebagai penasihat spiritual hingga kepemimpinan Raja Brawijaya V

Sebelumnya, Sabdo Palon dan Naya Genggong lebih dikenal dengan Sapu Angin dan Sapu Jagad.

Sabdo Palon banyak dikisahkan dalam Serat Jangka Jayabaya Sabdo Palon, juga dikenal dengan Jangka Sabdo Palon, yang diyakini sebagai karya pujangga R. Ng. Ranggawarsita.

Banyak pereka atau penterjemah pesan atau pemikiran Sabdo Palon yang sengaja mengarahkan hasil terjemahannya atau rekaannya untuk kepentingan golongan mereka. (EW) Oleh karenanya, tidak heran, golongan tersebut memiliki kepentingan untuk menyamarkan maksud yang sebenarnya, dan bahkan sengaja untuk menyesatkan.

Baca juga : Hoax : Brawijaya V Masuk Islam

Syogyanya Sabdo Palon meramalkan titik kehancuran Agama Penyembah 666 yang kebetulan ada di Nusantara, dan tidak menyebut secara eksplisit nama Agama yang dimaksud. Hal ini dikarenakan, Agama Penyembah 666 tidak an sich eksis di Nusantara sebagai sebuah Agama yang eksis sebagai sebuah Agama dengan ajaran Ke-Tuhanannya.

Titik Kehancuran Agama Penyembah 666, sekaligus menjadi titik bangkitnya kembali Agama Lokal dengan Kearifan Lokalnya. 

Ramalan hancurnya Agama Penyembah 666 ini, sebenarnya juga diramalkan oleh Nabi-nya sendiri, bahwa Agama tersebut bukanlah sebuah Agama yang kekal, dan akan hancur pada waktunya.

Kalau kita peka melihat fenomena yang terjadi di sekitar kita, maka kita pun akan melihat, banyaknya Pemeluk Agama Penyembah 666 yang kini sudah kembali ke Agama awalnya.

Serat tersebut ditulis sebagai ramalan adanya kehancuran Penganut Agama Penyembah 666 itu dari dalam dirinya sendiri, yang berada di Nusantara, dalam jangka waktu 500 tahun + 4 zaman, terhitung mulai dari hilangnya pamor Kerajaan Majapahit.

Namun syair dalam Jangka Sabdo Palon banyak dipelintir oleh kelompok-kelompok kepentingan, atau Penyembah Agama Penyembah 666, sehingga mereka ingin lempar batu sembunyi tangan.

Dengan menyebutkan sebuah Agama tertentu secara eksplisit, yang sebenarnya bukan Agama tersebut yang dimaksud, maka ini sebenarnya justru untuk mengadu domba, antara penganut-penganut Agama-agama yang ada di Nusantara.

Selanjutnya kelompok Agama Penyembah 666, tidak ingin diketahui gerakannya, atau mereka justru ingin mengakselerasi kebodohan dari kelompok-kelompok Agama yang beraliraan PENGHAFAL, dan bukan PENG-KAJI.

Sementara penganut Agama Penyembah 666 ini, menyelubungi diri mereka di dalam sebuah Agama stereotip. Mereka ibarat Buah, yang kulit dan dalamnya berbeda warna.

Terdapat bait di penghujung akhir Serat Jangka Sabdo Palon,.Tuturan inilah yang dikenal sebagai "Sabdo Palon Nagih Janji". Dimana Sabdo Palon memberitahukan tanda-tanda sosial, dan tanda-tanda Alam yang akan muncul di zaman kembalinya nanti.

Melihat berbagai peristiwa penting, yang tidak dapat kami dijelaskan di sini (bukan konsumsi publik), nampaknya janji yang ditagih, akan benar-benar dibayar dengan tanpa gonjang-ganjing, huru-hara, atau kehebohan.

Baca juga : Hoax : Brawijaya V Masuk Islam

Hal tersebut karena Alam pun sudah memberikan tanda-tanda dukungannya, bahkan bantuan gaib dari luar Nusantara pun, saat ini (awal 2020sudah membuktikan keberadaannya di Indonesia.

Tidak adanya huru-hara dikarenakan, para anak cucu, dibantu oleh para loyalis untuk menghalau siasat para machevelian dari timur tengah tersebut, untuk tidak jatuh lagi di lobang yang sama, meskipun para machevelian telah ber-metamorfosis dalam bentuk wadag dan siasat yang lain.

Ada baiknya, kita tetap menyimak serat tersebut untuk bahan renungan, kajian, dan sekaligus mengetahui betapa liciknya para machevelian itu.

Baca juga : Hoax : Brawijaya V Masuk Islam

Selain itu ada juga tuturan dalam serat tersebut, yang konon meramalkan terjadinya huru-hara akhir zaman, yakni:

Miturut carita kuna,
wecane janma linuwih,
kang wus kocap aneng jangka,
manungsa sirna sepalih,
dene ta kang bisa urip
yekti ana saratipun,
karya nulak kang bebaya,
kalisse bebaya yekti,
ngulatana kang wineca para kuna.

(Terjemahan bebas : Menurut cerita kuno dari para leluhur yang memiliki kelebihan dalam spiritual, semua cerita yang disampaikan para leluhur telah tertulis dalam kitab Jangka. Kelak umat manusia di masa depan akan lenyap separuh dari jumlah total yang menghuni bumi. Mereka yang bisa bertahan hidup harus berusaha dan bekerja untuk menjauhkan diri sendiri dari berbagai marabahaya. Cara untuk mempertahankan diri dari prahara di masa depan adalah dengan membaca, meresapi dan menjalankan ajaran-ajaran para leluhur.)

Selain syair di atas, juga keterangan jangka Sabdo Palon yang meramalkan terjadinya letusan Gunung Semeru, yang termuat dalam pupuh Sinom, yakni :

Sanget-sangeting sangsara,
Kang tumuwuh tanah Jawi,
Sinengkalan taunira,
Lawang Sapta Ngesthi Aji,
Upami nabrang kali,
Prapteng tengah-tengahipun,
Kaline banjir bandang,
Jerone nyilepake jalmi,
Kathah sirna manungsa kathah pralaya.

(Terjemahan bebas : Sangat-sangatlah sengsara, yang timbul di Tanah Jawa, ditandai pada tahun Sembilan Tujuh Delapan Satu. Seumpama menyeberang sungai, sampai di tengah-tengahnya, sungainya banjir bandang. Dalamnya menenggelamkan manusia. Banyak manusia mati, banyak bencana.)

Bagi mereka yang mengerti caranya membaca sandi-sandi Alam, syair di atas memiliki sandi-sandi yang dapat dibaca secara gamblang.

Sementara ramalan Sabdo Palon Naya Genggong, yang sudah terjadi, yakni meletusnya Gunung Merapi pada 2010 yang lalu, hal ini terkait dengan janji Sabdo Palon Naya Genggong sebelum moksha,

Di sinilah kita dapat menghitung ramalan di atas dengan bersandar pada 500 tahun + 4 zaman.

Hitungan priode tahun (zamanyang lazim dalam hitungan penanggalan Jawa adalah sewindu (delapan tahun). Jika demikian 4 jaman dikali 8, berarti 32 tahun, jadi isyarat meletusnya Gunung Merapi terjadi 32 tahun sesudahnya.

Hardi agung-agung samya,
Huru-hara nggêgirisi,
Gumalêgêr swaranira,
Lahar wutah kanan kering,
Ambleber angêlêbi,
Nrajang wana lan desagung,
Manungsanya keh brastha,
Kêbo sapi samya gusis,
Sirna gêmpang tan wontên mangga puliha.

Gunung berapi semua,
Huru hara mengerikan,
Menggelegar suaranya,
Lahar tumpah kekanan dan kekirinya,
Menenggelamkan,
Menerjang hutan dan perkotaan,
Manusia banyak yang tewas,
Kerbau dan Sapi habis,
Sirna hilang tak bisa dipulihkan lagi.

Memang dapat pula dikatakan bahwa Serat Jangka Jayabaya Sabda Palon merupakan sebuah karya sastra, dimana bait demi bait yang tersurat dan tersirat di dalamnya dapat dijadikan bahan kajian, jika Anda sebagai orang yang lahir, dan dibesarkan di Tanah Jawa, yang pasti juga benar-benar berdarah Jawa..

Sebagai penutup, Tim Tanah Impian melihat adanya indikator kuat yang terjadi pada tahun 2004, dimana di tempat asalnya (saat ini merupakan sebuah negara berdaulatdari Penganut Agama Penyembah 666 tersebut, sudah terang-terangan membuat sebuah perlambangan yang menjelaskan dan menekankan keberadaannya, bahwa mereka benar-benar sebagai kelompok penyembah setan.

Gunanya ramalan adalah agar kita dapat mencarikan solusinya, bukan untuk pasrah bongkokan. (Pesan dari anak cucu Mojopahit)

Literasi Utama

Sumber : Dari berbagai sumber
Foto : Istimewa

Terimakasih Sudah Membaca & Membagikan Warta WA Bogor - Bogor WhatsApp News

Previous
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »

Di Quran ada "Selamat Natal"

Populer